-->

Tauhid dalam Prespektif pemikiran Ali Syariati

Tauhid:
Dari Teologi Menjadi Ideologi
Dari Pemahaman Menuju Pembebasan
Dari Teosentris Hingga Teomorphis
(Refleksi Pemikiran Teologi pembebasan Ali Syari’ati)
Oleh: Sabara, M. Fil.I

Tauhid dalam Prespektif pemikiran Ali Syariati

Tauhid dalam Prespektif pemikiran Ali Syariati



A.   Mukaddimah:
Bagi Dia, Tauhid berarti Keesaan (Oneless)
Bagi kita, Tauhid adalah kesatuan (unity)
KepadaNya, Tauhid berarti penghambaan
Kepada kita, Tauhid bermakna pembebasan
Untuk Dia, Tauhid adalah pemujaan tanpa syarat
Untuk kita, Tauhid adalah persamaan tanpa kelas.

Banyak di antara kita yang memiliki kesulitan besar dalam memahami bagaimana Tauhid terkait dengan pembebasan. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kita telah dikondisikan untuk memiliki tingkat keimanan yang terbatas hanya pada taqlid dan ritus, Ibadah keagamaan dan dogma teologis. Iman (keyakinan) kita seperti jubah di dalam masjid. Walhasil, Islam dengan Tauhid sebagai fondasi ajaran menjadi tak bertuah bagi kemanusiaan, jangankan menjadi rahmat, justru Islam sering dijadikan dalih (pembenaran) yang melanggengkan kezaliman (hal yang sejatinya paling dilawan oleh Islam).
Secara praksis, menurut Hassan Hanafi, teologi yang diyakini secara dogmatik tak mampu menjadi “pandangan yang benar-benar hidup” yang memberi motivasi tindakan dalam kehidupan kongkret manusia. Hal ini dikarenakan penyusunan doktrin teologi tidak didasarkan atas kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia. Sehingga muncul keterpecahan (split) antara keimanan teoritis dan keimanan praktis dalam umat Islam, yang pada gilirannya akan menghasilkan sikap-sikap moral ganda atau “sinkretisme kepribadian”. Fenomena sinkretis ini tampak jelas, menurut Hassan Hanafi, dengan adanya paham keagamaan dan sekularisme (dalam kebudayaan), tradisional dan modern (dalam peradaban), Timur dan Barat (dalam politik), Konservatisme dan progresifisme (dalam sosial), serta kapitalisme dan sosialisme (dalam ekonomi).[1]
Melihat efek regresif dari teologi dogmatik yang hari ini menjadi mainstreem utama dalam khasanah teologi Islam yang dianut oleh mayoritas umat Islam, meniscayakan perlunya digagas suatu konstruk teologi Islam yang mampu menjawab persoalan-persoalan umat Islam, perlu dikonstruk teologi yang mempu memantik spirit, menjadi inspiring, dan menjadi pandangan dunia yang membebaskan umat Islam dari keterjajahan, keterbelakangan, dan keterbodohan. Rekonstruksi teologi Islam adalah satu hal yang sangat urgen dalam rangka pembenahan kondisi umat Islam menuju keadaan yang lebih baik. Teologi islam yang lebih bercorak liberasi (membebaskan) adalah corak teologi yang sangat dibutuhkan dalam menjawab kondisi kekinian umat Islam yang terpuruk pada keterbelakangan dan ketertinggalan dari umat-umat yang lain. Dalam rangka menyusun format kerangka teologi yang bersifat liberasi sangat dibutuhkan penafsiran baru yang rasional dan ilmiah, serta tetap berdasarkan pada nash suci (Alquran dan hadis) sebagai rujukan doktrinal dalam menyusun kerangka teologi yang konstruktif bagi umat Islam.
Menurut Toshio Kuroda, dalam menyusun konstruk teologi yang memiliki relevansi dalam menjawab persoalan-persoalan yang senantiasa muncul dalam perjalanan manusia sepanjang zaman. Didasarkan pada keyakinan bahwa Islam adalah norma kehidupan yang sempurna dan mampu beradaptasi pada setiap bangsa dan setiap waktu. Firman Allah adalah abadi dan universal yang menyangkut seluruh aktivitas dari seluruh suasana aktivitas kemanusiaan tanpa perbedaan apakah ia aktivitas mental atau aktivitas duniawi.[2]
Berdasarkan pernyataan Toshio Kuroda tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam mencakup bidang-bidang keduniaan, mental, dan sekaligus ketuhanan. Dengan demikian teologi (Tauhid) memiliki fungsi vital dalam pemikiran umat Islam, dalam lembaga-lembaga sosial politik Islam, dan dalam peradaban.[3] Tauhid haruslah bermakna penyatuan atau kesatuan antara dimensi transenden (spiritual) dan imanen (sosial). Antara realitas ilahiyah yang transenden dengan realitas alam dan manusia yang imanen tak memiliki keterpisahan yang kaku sehingga harus diposisikan secara biner. Dalam pandangan Murtadha Muthahhari, konstruksi teologi yang akhirnya menjadi sebuah pandangan dunia (world view) Tauhid yang bersifat unipolar dan uniaxial.[4]
Secara universal, seluruh aspek kehidupan sosial Islam harus diintegrasikan ke dalam “jaringan relasional Islam”. Jaringan ini diderivasikan dari pandangan dunia Tauhid, yang mencakup aspek keagamaan dan keduniawian, spiritual dan material, individual dan sosial. Jaringan relasional Islam ini akhirnya teruji dalam bentuk praksis ibadah ritual[5] yang merupakan kewajiban yang mesti dijalankan oleh umat Islam. Selain itu, perlu digagas relasi Tauhid dan pembebasan, implementasi Tauhid dalam konteks penindasan, dan masyarakat seperti apa yang diinginkan dalam konteks Tauhid.
Ali Syari’ati merupakan salah seorang tokoh intelektual muslim abad modern yang concern pada tema-tema pembebasan dari agama. Berbasis pandangan dunia Tauhid beliau menjadi propagandis yang membakar semangat anak muda Iran di tahun 1970-an untuk bangkit melawan penindasan rezim Pahlevi. Tak bisa dipungkiri, beliau adalah salah seorang tokoh teologi pembebasan Islam, yang bahkan mempersembahkan nyawanya untuk misinya tersebut.
B.   Biografi Singkat Ali Syari’ati

Ali Syari’ati terlahir dengan nama Ali Mazinani, pada tanggal 24 November 1933 di Mazinan, sebuah daerah dekat kota suci Masyhad, sebuah kota yang dianggap suci oleh para penganut Syiah imamiyah Itsna ‘Asyariyah, karena di kota tersebut dimakamkan imam mereka yang kedelapan, yakni imam Ali bin Musa al-Ridha. Ayah beliau adalah Muhammad Taqi Syari’ati dan ibu beliau bernama Zahrah. Nama Syari’ati sendiri yang kemudian dikenal sebagai namanya, beliau gunakan pertama kali pada paspornya untuk mengelabui petugas imigrasi, sewaktu beliau akan meninggalkan Iran menuju Inggris, pada tanggal 16 Mei 1977 (beberapa hari sebelum beliau meninggal).[6]
Orang tua beliau adalah tokoh masyarakat yang cukup disegani ditengah-tengah masyarakatnya sebagai tokoh spiritual. Meskipun demikian, keluarga Syari’ati tetaplah hidup sederhana selayaknya penduduk desa yang lain. Dari keluarganya inilah Ali Syari’ati membentuk kepribadiannya, mentalitas, dan jati dirinya, utamanya melalui sang ayah yang berperan sebagai orang tua, guru, dan pembimbing spiritualnya.[7] Masa muda Syari’ati dihabiskan dengan belajar, membantu orang tuanya mencari nafkah dan ikut aktif dalam perjuangan-perjuangan politik dan melakukan propaganda menentang rezim Syah Pahlevi yang sedang berkuasa di Iran pada saat itu.[8]
Selain terpengaruh oleh ayahnya, pembentukan jiwa Ali Syari’ati juga cukup terpengaruh oleh kakeknya Akhund Ahmad dan paman dari ayahnya Najib Naysapuri. Dari merekalah Ali Syari’ati kecil mempelajari fiqih, sastra, dan filsafat. Ali Syari’ati cukup mewarisi tradisi keilmuan yang diturunkan dari ayahnya, kakeknya, dan paman ayahnya.tersebut.[9] Hal ini tebukti dengan jejak langkah Ali Syari’ati selanjutnya yang memiliki kecendrungan yang cukup tinggi terhadap berbagai jenis keilmuan dan gerakan sosial keagamaan sebagaiamana ayah, kakek, dan paman ayahnya tersebut.
Syari’ati kecil memulai pendidikan formalnya di sebuah sekolah swasta di Masyhad.[10] Pada saat usianya yang menginjak masa remaja, Syari’ati cukup intens melakukan pengkajian terhadap filsafat, mistisisme, sastra, dan masalah-masalah kemanusiaan.[11] Ketika memasuki usia dewasa, Ali Syari’ati telah aktif menyibukkan dirinya dalam kegiatan-kegiatan sosial politik keagamaan. Di usianya yang masih terbilang muda, Syari’ati aktif di “Gerakan Sosialis Penyembah Tuhan” yang didirikan oleh ayahnya.[12]Pada tahun 1950-1951, ketika usia beliau masih 17 tahun, Ali Syari’ati terlibat dalam gerakan nasionalisme yang dilancarkan oleh Perdana Mentri Iran, Muhammad Mussaddeq untuk menggulingkan rezim Syah Pahlevi. Setelah Mussaddeq gagal dalam melancarkan kudetanya pada tahun 1953, Ali Syari’ati bergabung bersama ayahnya ikut aktif dalam “Gerakan Perlawanan Nasional” cabang Masyhad yang didirikan oleh Mehdi Bazargan. Akibat gerakannya itu, beliau bersama ayahnya dipenjara selama delapan bulan di penjara Teheran.[13] Masih pada tahun 1950-an ini juga, Syari’ati mendirikan Asosiasi Pelajar di Masyhad dan melakukan gerakan untuk menasionalisasi perusahaan industri minyak Iran.[14]
Pada tahun 1959, Ali Syari’ati lulus sebagai sarjana sastra dari Universitas Masyhad. Selanjutnya pada tahun 1960, beliau mendapat bea siswa dari pemerintah untuk melanjutkan study di Universitas Sorbone di Prancis.[15] Di Prancis inilah Syari’ati tinggal selama lima tahun dan banyak menimba beragam ilmu serta terlibat aktif dalam berbagai gerakan pembebasan. Di Prancis, beliau banyak berkenalan dan berguru pada beberapa filosof  dan ilmuwan terkemuka Prancis, seperti Alexist Carrel, Jean Paul Sartre, Henry Bergson, Frans Fanon, Louis Massignon, Albert Camus, dan tokoh-tokoh pemikir Prancis yang lainnya.[16] Diantara tokoh Prancis yang sangat mempengaruhi pemikiran beliau adalah Alexist Carrel, seorang ilmuwan Prancis. Bahkan beliau menerjemahkan dan mengembangkan buku karangan Alexist Carrel yang berjudul de Prayer kedalam bahasa Arab dengan judul al-Du’a. Diantara tokoh pemikir eksistensialisme yang cukup mempengaruhi pemikiran Ali Syari’ati adalah Jean Paul Sartre, Soren Abeye Kierkegard, dan Nikholas Bordayev. Selain itu Syari’ati juga banyak mengkaji pemikiran-pemikiran Marxisme yang sedang booming pada masa itu di dunia.
Selama di Prancis, beliau aktif dalam gerakan politik pembebasan iran bersama Mustafa Chamran dan ibrahim Yazdi. Di saat yang sama, beliau juga aktif dalam gerakan “Front Nasional Kedua”. Selama tinggal di Prancis, Syariati juga ikut aktif dalam gerakan pembebasan Aljazair.[17] Setelah beliau berhasil menyelesaikan program doktoralnya di Prancis, pada bulan September 1964, beliau meninggalkan Prancis dan kembali ke kampung halamannya di Iran.[18]
Sesampainya di Iran, Syari’ati ditangkap dan ditahan selama 1,5 bulan atas tuduhan terlibat aktif dalam gerakan politik melawan pemerintah selama beliau di Prancis.[19] Setelah dibebaskan, beliau kemudian diterima mengajar di Universitas Masyhad. Selain itu, Syari’ati juga mengajar di beberapa sekolah di Masyhad. Karena aktivitas politiknya yang cukup membahayakan, Syari’ati kemudian dikeluarkan dari Universitas Masyhad, dan selanjutnya beliau bersama Murtadha Muthahhari, Husein Behesyti, serta beberapa ulama Syiah yang lain mendirikan lembaga pendidikan Huseiniyah Irsyad, Syari’ati sendiri terlibat sebagai salah satu pengajarnya. Masa antara tahun 1967-1873 adalah masa di mana Syari’ati menyibukkan dirinya untuk mengajar di Huseiniyah Irsyad serta terlibat aktif dalam gerakan-gerakan politik melawan rezim Syah. Selama mengajar di Huseiniyah Irsyad beliau banyak memberikan kuliah yang cukup membakar semangat anak muda Iran untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Akibat kegiatannya ini, akhirnya beliau kembali dipenjarakan selama lima ratus hari oleh pemerintah. Syari’ati baru dibebaskan oleh pemerintah Iran pada bulan Maret 1975, itu pun setelah adanya desakan dari berbagai organisasi internasional serta para tokoh intelektual Prancis dan Aljazair.[20]
Setelah dibebaskan, Syari’ati menyadari bahwa dirinya tidak bebas melakukan aktivitas politik selama tinggal di iran. Akhirnya pada tanggal 16 Mei 1977, beliau meninggalkan Iran menuju ke Eropa. Tujuan pertama beliau adalah singgah di inggris dan selanjutnya hendak ke Amerika Serikat untuk mengunjungi anaknya yang kuliah di sana. Tapi, belum sempat beliau pergi ke Amerika, pada tanggal 19 juni 1977, beliau ditemukan meninggal secara misterius di rumah keluarganya, di Schoumpton, Inggris.[21]Pemerintah Iran(rezim Syah) menyebutkan beliau meninggal akibat serangan jantung, namun dugaan terkuat beliau dibunuh oleh agen SAVAK (agen intelejen Iran).[22]
Karena aktivitas politiknya yang begitu padat dan usia beliau yang cukup singkat, Ali syari’ati hanya sempat menulis dua buku secara khusus, yaitu Hajj (Haji) dan Kavir (Gurun Pasir), selebihnya adalah kumpulan kuliah dan ceramah beliau yang kemudian dibukukan.[23] Selain itu juga sempat menerjemahkan dan menggubah beberapa buku, seperti Abu DzarSalman al-Farisi, dan de Prayer karya Alexist Carrel. Telah banyak karya beliau yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pemikiran-pemikiran beliau yang cukup filosofis dan revolusioner telah cukup banyak mempengaruhi pemikiran Islam modern yang berkembang di Indonesia.

C.   Senarai Memahami Pikiran dan Bahasa Ali Syari’ati
Pemikiran Syari’ati bersfat multi dimensi … Syari’ati dapat disebut pemikir politik keagamaan -politico religio thinker- (Azyumardi Azra)[24]

Memahami pemikiran Ali Syariati terkait dengan berbagai macam hal dan diskursus keilmuan, tentu bukan merupakan hal yang mudah, mengingat posisinya yang begitu getol dalam menanggapi segala hal yang dihadapi, bisa dikata bahwa Syariati adalah salah satu tokoh yang melahirkan berbagai macam diskurus kewacanaan terkait dengan kompleksnya kehidupan. Ghulam Abbas Tawassuli, memuji Syari’ati sebagai sosok yang memiliki kesadaran dan intuisi yang tajam, keberanian berpikir, dan ketinggian jiwa, dan hal tersebut adalah sebagian dari karakter manusia terpuji yang dimiliki oleh Ali Syari’ati.[25]
Memahami sosok dan pemikiran Syari’ati adalah memahami sosok seorang perenung yang resah, spiritualis yang humanis, muslim (Syiah) yang taat,  intelektual yang tercerahkan, dan orator yang propagandis dan puitis. Karena itulah, Memahami pikiran seorang Ali Syari’ati tidaklah mudah, melihat kompleksitas diri dan pikirannya. Ali Syari’ati tahu dan sadar betul bahwa ia hidup di tengah-tengah masyarakat muslim (khususnya bangsa Iran) yang sedang berada dalam suasana penindasan, kesaliman, keterbelakangan, kebodohan, apatisme. Di sisi lain, Ali Syari’ati diperhadapkan pada fenomena kaum intelektual dan ulama yang diam, intelektual yang hanya sibuk berasyik-ma’syuk dengan keilmuan tapi tak mampu menjadi intelektual yang membawa pencerahan, atau ulama yang hanya sibuk dengan pengajaran dogama keagamaan dan abai terhadap spirit pemebbasan dari agama (Islam). Bahkan yang lebih miris lagi, sebagain intelektual dan ulama tersebut makin melegitimasi kelanggengan kezaliman dan penindasan. Pada situasi seperti inilah, Ali Syari’ati hidup dan merenungkan kehidupannya.
Di sisi lain Ali Syari’ati adalah seorang spiritualis yang humanis, Seerti yang dituturkan oleh Ali Rahmena, pada tahun 1964, Ali Syari’ati gnostisisme yang telah ia alami sejak masa kanak-kanak akhirnya menjadi “halilintar” yang mentransformasikan kehidupannya dan memikatnya kepada sufisme. Tulisan-tulisan Ali Syari’ati pada masa ini bisa dipandang sebagai bukti pencarian gnostiknya. Dengan menjelaskan proses pencarian jiwa dan pencapaian kebenaran, Ali Syari’ati menggambarkan pencariannya terhadap kesempurnaan tujuan semua sufi.[26]  Sebagai seorang spiritualis, Ali Syari’ati tidak serta-merta larut dalam keasyikan spiritual dan abai terhadap dunianya, Ali Syari’ati benar-benar meyakini bahwa spiritualitas harus berbanding lurus dengan pencerahan dan pembebasan. Spiritualis sejati adalah seperti sosok imam Ali dan Imam Husein yang tampil sebagai agen yang memperjuangkan pembebasan umat. Sosok Ali Syari’ati yang spiritualis-humanis ini tampak pada pemikiran beliau mengenai haji. Dalam pandangan Syari’ati, haji adalah sebuah ritual yang membawa kita pada sebuah refleksi evolusi eksistensial dan setiap ritus haji mengantarkan manusia pada makna pembebasan yang sesungguhnya.[27]
Aspek lain yang tak bisa kita lupakan dalam memahami sosok Ali Syari’ati adalah bahwa beliau sebagai seorang penganut Syiah yang fanatik yang percaya bahwa Syiah adalah ideologi yang revolusioner. Refleksi seorang Ali Syari’ati sebagai sosok muslim Syiah yang taat dan revolusioner dapat kita lihat dalam berbagai tulisan-tulisan beliau yang menjadikan beberapa doktrin khas Syiah seperti imamah, asyura, Mahdiisme, dan lainnya sebagai basis dari pikiran-pikiran revolusioner beliau. Ali Syari’ati adalah orang yang percaya betul terhadap doktrin Syiah, hanya saja refleksi beliau terhadap doktrin-doktrin tersebut menjadikan nuansa yang berbeda dari pemahaman banyak kalangan Syiah lainnya.
Selain sebagai seorang muslim (Syiah) yang taat, sosok Syari’ati juga harus dipahami sebagai seorang intelektual yang tidak eksklusif pada suatu pemikiran tertentu. Pengalaman beliau kuliah di Sorbone University Paris, membuat Ali Syari’ati makin dekat dengan pemikiran-pemikiran Barat, sosok pemikir Barat seperti Franz Fanon, Alexist Carrel, Jean paul Sartre, bahkan Karl Marx, dan lain-lain banyak menginspirasi konstruksi pemikiran Ali Syari’ati. Karena begitu banyak terpengaruh oelh pemikiran Barat, Ali Syari’ati kerap dituduh sebagai agen rahasia Marxisme dan Babisme.[28] Sebagai seorang inteletual yang banyak concern pada tema-tema sosiologi, Ali Syari’ati sangat tertarik pada hubungan dialektis antara teori dan praktek, antara ide dan kekuatan sosial, dan antara kesadaran dan eksistensi kemanusiaan. Ali Syar’ati memiliki komitmen yang tinggi untuk peragian (decay) gerakan-gerakan revolusioner, khususnya agama radikal.[29]
Ali Syari’ati juga mesti dpahami sebagai seorang orator ulung yang tampil sebagai propagandis revolusi Islam Iran. Beliau tampil sebagai orator yang bersemangat, retoris, dan artikulatif dan sangat banyak memikat orang, khususnya kaum muda Iran. Sebagai seorang propagandis, Ali Syari’ati kerap menggunakan jargon-jargon yang mengkritik tajam institusi-institusi yang sudah mapan. Karena sebagai seorang propagandis yang berbahaya inilah, Ali Syari’ati kemudian “dibereskan” oleh agen SAVAK (intelejen Iran di masa Syah Pahlevi) saat beliau berada di London pada tahun 1977. Sebagai seorang orator dan propagandis ulung, Ali Syari’ati kerap menggunakan gaya bahasa yang simbolik dan provokatif yang kerap keseluruhan maksudnya sangat sulit ditangkap, penggunaan bahasa simbolik inilah yang membuat sedikit kesulitan dalam melacak maksud dari pemikiran Ali Syari’ati. Pemilihan bahasa simbolik dilakukan secara sadar oleh Syari’ati. Ia secara sadar memilih bahasa simbolik dibandingkan bahasa expository yang lugas. Menurut Syari’ati bahasa simbolik (dan puitik) yang menyatakan makna lewat simbol-simbol dan imaji adalah bahsa yang paling indah dan halus dibanding bahasa yang pernah dikembangkan oleh manusia. Bahasa simbolik jauh lebih universal, lebih mendalam, dan lebih abadi dibandingkan bahasa eksposisi yang maksud dan kejelasannya terbatas pada waktu dan tempat.[30]Rupanya Ali Syari’ati ingin mengabadikan pesan-pesannya untuk semua waktu dan tempat, meski konsekuensinya menjadi sulit melacak pemikiran Ali Syari’ati. Pemilihan Ali Syari’ati pada bahasa simbolik dalam menyampaikan pesan-pesannya, sangat dipengaruhi pula oleh transformasi spiritual yang ia alami. Menurut Ali Rahmena, Ali Syari’ati menggunakan seni membuka konsep, sebuah bahsa yang memiliki sebuah makna yang kelihatan dan superfisila yang sementara menutupi sejumlah teka-teki.[31]
Sosok Ali Syari’ati yang multi-atribut sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya membuat pemikrian Ali Syari’ati bersifat multi dimensi, dan karenanya multi interpretable. Namun demikian, kita tetap masih bisa melihat konsistensi pandangan dunia dalam tulisan-tulisan beliau. Pandangan-pandangan Ali Syari’ati yang menonjol adalah menyangkut hubungan antara agama dan politik, yang dapat dikatakan menjadi dasar dalam ideologi pergerakannya. Dalam konteks inilah, Azyumardi Azra menyebut Ali Syari’ati sebagai pemikir politik keagamaan (politico religio thinkeri).[32]
Memahami epistemologi atau manhaj pemikiran Ali Syari’ati tak lepas dari memahami sosok Ali Syari’ati secara utuh, sosok Ali Syari’ati yang multi atribut dan multi dimensi. Ali Syari’ati menghadirkan pikirannya melalui dialektika antara idealita konsep dengan kenyataan serta praktek sosial, Ali Syari’ati adalah orang yang gemar melakukan refleksi kritis terhadap doktrin-doktrin (baik teologi maupun ritual) Islam guna menghadirkan muatan ideologi Islam yang revolusioner. Ali Syari’ati adalah pemikir inklusif yang sangat terbuka terhadap pemikrian Barat dan menjadikannya sebagai inspiring dalam memahami ajaran Islam. Dan yang terpenting dari memahami pemikiran Ali Syari’ati adalah beliau menggunakan bahasa simbolik dalam mengemas pikiran-pikiran yang beliau sampaikan kepada publik. Ali Syari’ati lebih tampak sebagai pemikir reflektif dibandingkan pemikir epistemik. Beliau tidak meninggalkan sistematika atau konstruksi epistemologis yang jelas (sebagaimana Murtadha Muthahhari), tapi beliau meninggalkan banyak catatan mengenai refleksi kritis atas doktrin, teori, dan kenyataan sosial. Hal ini jualah yang membuat kita menjadi sulit memahami pemikiran Ali Syari’ati secara sistemik, tapi, seperti apa pun, sosok Ali Syari’ati dan pemikirannya adalah inspring yang tak pernah kering. Karena Ai Syariati, sebagaiaman diungkapkan oleh Sayyid Ali Khamene’i (pemimpin spiritual Iran) adalah pelopor penjelasan masalah-masalah terbaru yang disingkap Islam modern, masalah-masalah yang sulit dijawab dan dipahami generasi masa itu.[33]


D.   Ali Syari’ati tentang Pandangan Dunia dan Ideologi
Ideologilah yang mampu mengubah masyarakat (Ali Syari’ati)[34]

Pada dasarnya dalam menjalani kehidupan, manusia sangat bergantung pada pola atau kerangka pikir yang kemudian disebut sebagai pandangan dunia atau worldview. Secara sederhana pandangan dunia adalah kerangka yang kita buat untuk melihat dunia dan berbagai kejadian yang menyertainya. Berbagai kejadian dan peristiwa kita beri makna dalam kerangka ini.[35] Menurut Murtadha Muthahhari, pandangan dunia inilah yang kemudian menjadi dasar dari ideologi yang dianut oleh setiap individu dan golongan. Perbedaan pada ideologi yang dianut oleh setiap manusia disebabkan perbedaan dalam hal menyusun kerangka pandangan dunia Pandangan dunia, adalah bentuk dari sebuah kesimpulan, penafsiran, dan hasil kajian yang ada pada seseorang berkenaan dengan Tuhan, alam semesta, manusia, dan sejarah.[36]
Gagasan apa pun yang lahir dari seseorang pasti dipengaruhi oleh mazhab pemikiran yang ia anut. Jika seseorang percaya pada mazhab pemikiran tertentu, maka kepercayaan, emosi, jalan hidup, aliran politik, pandangan-pandangan sosial, konsep-konsep intelektual, keagamaan dan etikanya tidaklah terpisah dengan pandangan dunianya, dan karenanya pula maka mazhab pemikiran pada akhirnya dapat menciptakan gerakan, membangun dan melahirkan kekuatan sosial. [37]
Pandangan tentang dunia menurut Ali Syari’ati adalah pemahaman yang dimiliki seseorang tentang wujud atau eksistensi. Misalnya, seseorang yang menyakini bahwa dunia ini mempunyai Pencipta Yang Sadar dan mempunyai kekuatan atau kehendak, dan bahwa dari catatan dan rekaman akurat yang disimpan, ia akan menerima ganjaran atas amal perbuatannya atau dia akan dihukum lantaran amal perbuatannya itu, maka ia adalah orang yang mempunyai pandangan tentang dunia religius. Berdasarkan pandangan tentang dunia inilah seseorang lalu mengatakan: ”Jalan hidupku mesti begini dan begitu dan aku mesti mengerjakan ini dan itu”, inilah makna memiliki ideologi agama. Dengan demikian, idealism Hegel, materialisme dialektik Marx, eksistensialisme Heiddeger, Taoisme Lao Tsu, wihdatul wujud al-Hallaj, semuanya adalah pandangan tentang dunia. Setiap pandangan tentang dunia ataupun mazhab pemikiran pasti akan memperbincangkan konsep manusia sebagai konsep sentral.[38]
Pandangan tentang dunia seseorang dipengaruhi oleh aspek-aspek spiritual dan material yang khas dari masyarakatnya. Menurut Henry Bergson, dunia yang dipandang oleh seorang individu yang hidup dalam suatu masyarakat tertutup merupakan suatu dunia yang terkungkung. Begitu juga sebaliknya, seorang individu yang hidup dalam masyarakat yang terbuka memandang dunia luar sebagai sesuatu yang tidak terbatas, ekspansif dan senantiasa bergerak. Masyarakat dan agama selalu menentukan visi manusia tentang dunia yang kemudian mempengaruhi tindakan-tindakannya. Oleh karena itu, membahas pandangan tentang dunia pada hakikatnya membahas tentang manusia sebagai subjek. Karena pandangan tentang dunia mempengaruhi seseorang dalam mengambil pilihan tindakannya, maka mempelajari pandangan hidup suatu komunitas sosial atau bangsa berarti mempelajari tipe-tipe dari bentuk-bentuk dan pola kebudayaan serta berbagai karakteristik yang dikembangkan oleh komunitas atau bangsa tersebut.[39]
Di tengah dominasi pandangan tentang dunia yang materialistik sekarang ini, Ali Syari’ati menegaskan dirinya pada pilihan pandangan dunia religius. Jenis pandangan dunia ini yakin bahwa jagat raya adalah sesuatu yang datang dari Tuhan, sadar dan responsif terhadap tuntutan-tuntutan spiritual serta aspirasi manusia. Hanya saja, kerangka dasar pandangan dunia yang bersifat religius yang dimaksud adalah cara pandang yang berbasis pada hasil riset ilmiah yang bersifat saintifik bukan bentuk yang ortodoks atau ekstrim. Ali Syari’ati mengambil pilihan pandangan hidup sintetik di antara kutub ekstrim di atas yaitu pandangan hidup religius humanistik yang mensublimasi unsur manusia sebagai makhluk yang progresif, selalu mencari kesempurnaan dan sangat manusiawi.[40]
Ali Syari’ati menawarkan gagasan pandangan tentang dunia religius humanistik untuk memerangi dualisme kelas antara kelas penguasa dan yang dikuasai, antara kelas borjuasi dan proletariat, sehingga manusia akan menemukan keesaan yang orisinil dalam rangka membangun kesadaran manusia pada misinya sebagai wakil atau khalifah Tuhan di muka bumi. Menurutnya, manusia adalah makhluk merdeka dan memiliki potensialitas tanpa batas untuk menentukan nasibnya sendiri dan bukan ditentukan oleh kekuatan eksternal dengan membangun semangat Tauhid.
Pandangan dunia akhirnya bermetamorfosa dan membentuk ideologi sebagai keyakinan dan cita-cita yang dianut oleh kelompok tertentu. Ali Syari’ati melakukan redefenisi tentang pemahaman ideologi. Dimulai dari pendekatan etimologis, Ali Syari’ati menjelaskan bahwa ideologi terdiri atas dua kata, idea dan logiIdea berati pemikiran, gagasan, keyakinan, cita-cita, dan kata logi yang berarti logika, ilmu, atau pengetahuan, dengan demikian ideologi adalah ilmu tentang cita-cita atau keyakinan. Menurut pengertian ini, seorang ideolog adalah seorang pembela suatu ideologi atau keyakinan tertentu. Dengan demikian, ideologi terdiri dari berbagai keyakinan dan cita-cita yang dianut oleh suatu kelompok tertentu, kelas sosial tertentu, atau suatu bangsa.[41]
Menurut Ali Syari’ati, ideologi  adalah fitrah yang paling penting dan bernilai serta merupakan kesadaran diri yang istimewa dalam diri manusia.[42] Kesadaran ideologis, menurut Ali Syari’ati merupakan kesadaran khusus yang khas bagi manusia tanpa terkecuali.[43] Hal tersebut dikarenakan, ideologi menjadi “kebutuhan” manusia yang paling mendasar untuk memberi arah atau petunjuk dalam mengungkap kebenaran sampai ke tingkat melakukan verifikasi atas tindakan masyarakat serta kondisi-kondisi sosial yang melingkupinya. Secara sederhana, ideologi berperan dalam pemberian cara pandang, membentuk pemahaman, serta mengarahkan prilaku manusia dalam berinteraksi dengan dunianya.
Berkebalikan dengan pandangan Marx dan Weber yang berpandangan ideologi dibentuk oleh struktur masyarakat. Syari’ati justru menyatakan bahwa, dengan kesadaran diri (ideologi) inilah manusia membentuk masyarakat.[44] Ideologi menempati posisi yang begitu kuat dalam pikiran dan keyakinan manusia. Dan ideologi, tetap diperpegangi sebagai penuntun hidup yang paripurna bagi para penganutnya. Bagi Ali Syari’ati hanya ideologilah yang mampu merubah masyarakat, karena sifat dan keharusan ideologi yang meliputi keyakinan, tanggung jawab, dan keterlibatan untuk komitmen.[45] Pandangan Ali Syari’ati ini, senada dengan pandangan Antonio Gramsci, yang menyatakan bahwa ideologi, lebih dari sekedar sistem ide. Ideologi secara historis memiliki keabsahan yang bersifat psikologis (ideologi memberikan spirit perjuangan). Selain itu, ideologi mengatur dan memberikan tempat bagi manusia untuk bergerak dan, mendapatkan kesadaran mengenai posisi mereka maupun perjuangan mereka dalam kehidupannya.[46]



[1]Lihat Hassan Hanafi, Min al-Aqidah ila al-Tsawrah, Diterjemahkan oleh Asep Usman Ismail, Suadi Putro, dan Abdul Rauf dengan Judul Dari Akidah ke Revolusi (Cet, I; Jakarta: Paramadina, 2003),  h. 45.
[2]Kazuo Shimogaki, Between Modernity and Postmodernity the Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: a Critical Reading, diterjemahkan oleh M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula dengan Judul Islam Kiri: Antara Modernisme dan Postmodernisme Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi (Cet. VII; Yogyakarta: LKiS, 2004), h. 16.
[3] Ibid.
[4]Lihat Murtadha Muthahhari, Syesyi Makoleh, diterjemahkan oleh Muhammad Ilyas Hasan dengan Judul Kumpulan Artikel Pilihan (Cet, I; Jakarta: Lentera Basritama, 2002), h, 221.
[5]Kazuo Shumogaki, op, cit., h. 17.
[6] Ali Rahmena, Para Perintis Zaman Baru Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 1995), h. 239.
[7]Eko Supriyadi, Sosialisme Islam: Pemikiran Ali Syari’ati (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 27-28.
[8]Ali Syari’ati, Abu Dzar, Diterjemahkan oleh Tim Muthahhari Paperbacks dengan Judul Abu Dzar: Suara Parau Menentang Penindasan (Cet.. 1; Bandung: Muthahhari Paperbacks, 2001), h. vii.
[9] Eko Supriyadi, op, cit., h. 30-31.
[10]Ali Rahmena, op, cit., h. 205.
[11] Eko Supriyadi, op, cit., h. 31
[12] Ibid., h. 32.
[13]Ekky Malakky, Ali Syari’ati: Filosof Etika dan Arsitek Iran Modern (Cet. I; Bandung: Teraju, 2003), h. 14-15.
[14]Ali Syari’ati, A Glance at Tomorrow History, diterjemahkan oleh Satria Panindito dengan Judul Islam Agama Protes (Cet. I; Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992), h. 7.
[15]Ekky Malakky, op, cit., h. 15.
[16] Eko Supriyadi, op, cit., h. 34.
[17] Ibid., h. 35-36.
[18] Ibid., h. 38.
[19] Ekky Malakky, op, cit., h. 20
[20]Eko Supriyadi, op, cit., h. 40.
[21]Ali Rahmena, op, cit., h. 240.
[22]Ekky Malakky, op, cit., h. 25.
[23] Ibid., h. 27.
[24]Azyumardi Azra, “Akar-akar Ideologi Revolusi Iran: Filsafat Pergerakan Ali Syari’ati” dalam M. Deden Ridwan (ed), Melawan Hegemoni Barat: Ali Syari’ati dalam Sorotan Cendekiawan Indonesia, (Cet, I; Jakarta: Lentera, 1999), h. 51.
[25]Ghulam Abbas Tawassuli, “Sepintas tentang Ali Syari’ati” dalam Kata Pengantar dalam Buku Ali Syari’ati, al-Islam, al-Insan, wa Madaris al-Gharb, Diterjemahkan oleh Afif Muhamamd dengan Judul Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat, (Cet, II; Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), h. 7.
[26]Ali Rahmena, an Islamic Utopian: a Political Biography of Ali Syari’ati, Diterjemahkan oleh Dien Wahid, dkk dengan Judul Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, (Cet, I; Jakarta: Erlangga, 2002), h. 219.
[27]Lihat Ali Syari’ati, Hajj, diterjemahkan oleh Burhan Wirasubrata dengan Judul Makna Haji (Cet. II ; Jakarta : al-Huda, 2002),
[28]Azyumardi Azra, op. cit., h. 58.
[29]Ibid., h. 49.
[30]Lihat Ali Syari’ati, Man and Islam, Diterjemahkan oleh M. Amien Rais dengan Judul Tugas Cendekiawan Muslim, (Cet, II; Jakarta: Srigunting Press, 2001), h. 2.
[31]Ali Rahmena, an Islamic… loc. cit.
[32]Lihat Azyumardi Azra, op. cit., h. 51.
[33]“Syari’ati bukan Orang yang Anti Agamawan: Wawancara dengan Rahbar tentang Ali Syari’ati dalam www.irib.com. Diakses pada tanggal 3 Mei 2012.
[34]Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam, Diterjemahkan oleh Haidar Bagir (Cet, II; Bandung: Mizan, 1989), h. 81.
[35]Musa Kazhim, Belajar Menjadi Sufi, (Cet,, I; Jakarta: Lentera Basritama, 2002), h. 25.
[36]Murtadha Muthahhari, ­Ma­s’ala-ye Syenokh, Diterjemahkan oleh Muhammad Jawad Bafaqih, dengan Judul Mengenal Epistemologi, (Cet, I; Jakarta: Lentera, 2001), h. 17-18.
[37]Ali Syari’ati, Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Diterjemahkan oleh MS. Nasrulloh dan Afif Muhammad, (Cet, I; Bandung: Mizan, 1992), h. 20
[38]Lihat ibid., h. 24-25
[39]Ali Syari’ati Man and Islam, op. cit., h. 22-24
[40]Ibid., h. 35.
[41]Ibid., h. 156-157.
[42]Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual, op. cit., h. 54
                [43]Ibid., h. 114.
[44]Ibid., h. 57.
[45]Ibid., h. 81.
                [46]Roger Simon, Pemikiran Politik Gramsci (Cet, I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h.83. 

Tauhid:
Dari Teologi Menjadi Ideologi
Dari Pemahaman Menuju Pembebasan
Dari Teosentris Hingga Teomorphis
(Refleksi Pemikiran Teologi pembebasan Ali Syari’ati)
Oleh: Sabara, M. Fil.I

Tauhid dalam Prespektif pemikiran Ali Syariati

Tauhid dalam Prespektif pemikiran Ali Syariati